Alasan Orang Tua Tidak Merestui Cinta Anaknya

Restu orang tua
Lintas Cewek - Setiap pasangan pasti ingin hubungan percintaannya berjalan lancar hingga berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun jalinan asmara bisa saja mengalami kendala, salah satunya tidak adanya restu dari orangtua.

Terkadang banyak anak yang tidak habis pikir kenapa sosok kekasih yang dicintainya tidak disukai oleh orangtua. Ini dia berbagai penyebab orangtua menentang hubungan asmara anaknya, seperti dijelaskan Psikolog Klinis dan Forensik Kasandra Putranto.

1. Waktu
Terkadang ada orangtua yang menilai anaknya masih terlalu muda dan belum siap untuk berpacaran. Ketika orangtua bersikeras anaknya untuk tidak berpacaran dulu sementara sang anak sudah memulainya, bisa menimbulkan kekhawatiran pada ayah dan ibunya.

"Kadang-kadang kenapa orangtua tidak setuju karena waktunya tak tepat. Mungkin orangtuanya mewanti-wanti jangan pacaran dulu, tapi si anak dalam lingkungan pertemanan sekolahnya dan lain sebagainya sudah pacaran. SD mau pacaran, SMP mau pacaran. SMP (sekitar umur) 12-15 itu belum waktu pacaran, itu waktu untuk bergaul dengan banyak orang, mencoba berprestasi dan sebagainya," urai Kasandra, saat berbincang dengan wolipop di kediamannya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

2. Kualitas Pribadi Sang Anak
Meskipun secara usia seseorang sudah pantas untuk mulai pacaran (rata usia 16-18 tahun), halangan justru bisa datang dari anak itu sendiri. Yaitu cara orangtua melihat kualitas pribadi sang anak. "Dia (anak) mempunyai kualitas yang belum siap. Yang namanya remaja kan dia sekolah, kalau kerjaannya (di sekolah) nggak beres terus pacaran, terang aja orangtuanya nggak merestui. Sama kalau menikah, dia belum bisa mandiri tapi mau menikah," jelas psikolog berusia 45 tahun ini.

3. Faktor Pasangan
Semua orangtua tentunya menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk soal pasangan hidup. Dalam hal ini kualitas-kualitas seperti karakter pribadi, intelektual, perilaku, sosial ekonomi hingga latar belakang budaya kerap menjadi pertimbangan utama para orangtua dalam menilai kekasih sang anak.

"Kualitas dari pasangan mungkin pertama IQ. Coba bayangkan kalau anak kita pintar tapi yang ini (pasangan) IQ-nya nggak nyambung, itu nanti akan jadi perkara. Nanti kalau ada perbedaan yang gap, cowoknya nggak sekolah atau (hanya) SMA, sementara pasangannya S2, itu berat. Itu faktor-faktor yang seringkali anak nggak lihat. Orangtua melihat itu sebagai potensi risiko yang akan mempersulit," urai Kasandra.

4. Tuntutan Tersendiri dari Orangtua
Faktor keempat ini, menurut Kasandra adalah murni subjektif dari penilaian orangtua. Ketika seorang ibu hanya menginginkan anaknya hanya menikah dengan seorang pejabat, itu bukan sekadar karena faktor finansial. Namun mengharapkan posisi yang lebih tinggi dalam interaksi sosial. Jadi, ketika sang anak tidak memilih pasangan yang tidak memenuhi kriteria, hubungan tersebut bisa memicu pertentangan dalam hubungan asmara.

"Di mana ada ambisi orangtua di situ yang mau menikahkan anaknya. Dia berpikir bahwa itu yang terbaik untuk anaknya," ujar ibu dari tiga anak ini.

Sumber